Menjemput Ketengan Jiwa melalui Sholat Dhuha: Kajian Dhuha
Menjemput Ketengan Jiwa melalui Sholat Dhuha: Kajian Dhuha
Penulis : Ahmad Ridho (Trainer Ruqyah Bandung & Cimahi)
Banyak permsalahan-permasalahan yang kita hadapi dalam hidup kita sehari-hari “PERIKSA HATI KITA” terkadang Hati kita Kotor karena dosa yang kita lakukan belum kita Taubatkan. Tidak Ada perbuatan yang kita lakukan melainkan Akan kembali kepada diri Kita Sendiri.
Diantara konsep dalam Tazkiyatun Nafs adalah dengan mendirikan Amalan-Amalan Sunnah salah satunya dengan menegakkan Sholat Dhuha.
Diwaktu Pagi ini ada Shalat Sunnah yang bagus untuk dikerjakan dan menjadi “penyandaran” masalah masalah kita yang sedang dihadapi.
Diwaktu dhuha ini mari kita ber-Muhasabah sejenak.
عن أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ حَافَظَ عَلَى شُفْعَةِ الضُّحَى غُفِرَ لَهُ ذُنُوْبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Diriwayatkan dari Abu Hurairah a bahwa Rasulullah n bersabda, ‘Barangsiapa memelihara pelaksanaan shalat Dhuha yang genap jumlah rakaatnya, maka diampunilah dosa-dosanya, sekalipun banyaknya laksana buih lautan’.” (HR. Tirmidzi/ Kitab 9 Imam Lidwa Version)
عن أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : أَوْصَانِيْ خَلِيْلِيْ بِثَلَاثٍ لَا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوْتَ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah a bahwa ia berkata, ‘Kekasihku (Rasulullah) memberikan pesan (wasiat) kepadaku dengan tiga hal yang tidak pernah aku tinggalkan hingga aku meninggal nanti. Yaitu puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha, dan tidur dalam keadaan sudah mengerjakan shalat witir’.” (HR. Bukhari/Kitab 9 Imam Lidwa Version)
عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ
قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ
تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ
وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ
الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ
الضُّحَى. (أخرجه مسلم.
Dari Abu Dzar, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau telah bersabda: “Di setiap pagi, ada kewajiban sedekah atas setiap persendian dari salah seorang kalian. Setiap tasbiih adalah sedekah, setiap tahmiid adalah sedekah, setiap tahliil adalah sedekah, setiap takbiir adalah sedekah, amar makruf nahi mungkar adalah sedekah. Dan dapat memadai untuk semua itu, dua rakaat yang dilakukan pada waktu Dhuha” (HR Muslim/kitab 9 Imam Lidwa Version)
Bahkan tidak hanya itu
Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba ialah shalatnya. Apabila baik, maka ia telah beruntung dan selamat; dan bila rusak, maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila kurang sedikit dari shalat wajibnya , maka Rabb Azza wa Jalla berfirman, “Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat tathawwu’ (shalat Sunnah),” lalu disempurnakanlah dengannya yang kurang dari shalat wajibnya tersebut, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian. [HR at-Tirmidzi/Kitab Lidwa Version]
kita tidak pernah tahu apakah Shalat Wajib kita diterima atau tidak oleh Allah SWT. maka alangkah bahaginya jika nanti sholat Dhuha kita menjadi penganjal kelalaian sholat wajib kita.
Bagaimana dengan Jumlah rakaatnya?
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى
أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ الله
“Dahulu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Dhuha
empat rakaat, dan menambahnya sangat banyak” (HR Muslim, kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab:
Istihbâb Shalat ad-Dhuha, no. 719)
bagaimana dengan Waktunya?
Waktu shalat Dhuha dimulai dari terbitnya
matahari hingga menjelang matahari tergelincir (zawâl). Sedangkan akhir waktu
Dhuha, yaitu dengan tergelincirnya matahari yang menjadi awal waktu Zhuhur.
Secara rinci Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn menjelaskan bahwa waktu Dhuha berawal setelah matahari terbit seukuran tombak, yaitu sekitar satu meter. Adapun dalam perhitungan jam, yang ma’ruf ialah sekitar 12 menit, atau untuk lebih hati-hati sekitar 15 menit. Apabila telah berlalu 15 menit dari terbit matahari, maka hilanglah waktu terlarang dan masuklah waktu untuk bisa menunaikan shalat Dhuha. Sedangkan akhir waktunya, ialah sekitar sepuluh menit sebelum matahari tergelincir. (Lihat asy-Syarhul-Mumti’, 4/122-123)
Tunggu Apalagi?? Jangan Sampai Syaithan mengambil waktu dhuha kita
Refrensi :
Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist
كتاب المسافرين والقصورة
كتاب شرح الممتع
كتاب القاسي موعظة المؤمنين
Bebas Share Artikel Ini.

Komentar
Posting Komentar